• Jelajahi

    Copyright © lintasnarasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Tragedi Angke 1740: Ketika VOC Membantai Orang Tionghoa

    Kamis, 23 Juli 2026, 13.57 WIB Last Updated 2026-07-23T20:57:46Z
    masukkan script iklan disini
    Baca Juga
    masukkan script iklan disini tengah post

     

    Ilustrasi: Pemandangan dramatis dan suram di Kali Angke pada masa kolonial, menggambarkan suasana pasca-konflik dengan air sungai yang memantulkan warna merah darah dan sisa-sisa kehancuran, menciptakan kesan mendalam dan kesedihan.

    Geger Pacinan Tumbal Pembantaian: Dari Sisi Gelap Batavia yang Jarang Dibahas di Buku Sejarah!


    "Rombongan itu diseret ke halaman balai kota. Di sana, di bawah terik matahari Banten dan tanah pasir Batavia, mereka dieksekusi satu per satu. Darah mengalir begitu deras hingga air kanal berubah merah pekat, dan bau anyir darah memadati udara selama bertiga-tiga hari."


    Catatan Lepas Ekspedisi VOC (Disarikan dari Arsip Arsip Nasional Republik Indonesia / ANRI)


    Batavia, Oktober 1740: Semerbak Tebu dan Aroma Paranoia


    Rintik hujan di pagi itu belum sempat menyapu debu jalanan pasir di luar benteng Kasteel Batavia. Batavia pada medio abad ke-18 bukanlah kota permukiman biasa; ia adalah mega-proyek kapitalisme perintis milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).


    Kanal-kanal buatan manusia membelah kota seperti sarang laba-laba, dirancang menyerupai Amsterdam kecil di pesisir Jawa. Namun, tidak seperti tanah air leluhur penguasa Kompeni yang dingin, udara di sini lembap, dipenuhi kepulan asap dari kilang-kilang gula di wilayah Ommelanden (daerah pinggiran Batavia).


    Di balik harum karamel tebu yang terbakar, berembus aroma lain yang jauh lebih pekat: paranoia.


    Selama puluhan tahun, warga Tionghoa adalah tulang punggung perekonomian Batavia. Mereka adalah tukang batu yang membangun benteng, pedagang yang menghidupkan pasar, serta buruh-buruh tangguh di perkebunan tebu.


    Namun, pada akhir dekade 1730-an, pasar gula global dihantam krisis dahsyat. Harga gula jatuh bebas di pasar Eropa akibat surplus produksi dari Kepulauan Karibia.


    Kilang-kilang di Ommelanden gulung tikar satu per satu. Ribuan buruh Tionghoa mendadak kehilangan mata pencaharian, menjadi pengangguran yang terlunta-lunta di luar tembok kota.


    Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, seorang pejabat VOC yang kaku dan tengah dililit tekanan finansial, mengambil langkah keras. Dewan Hindia (Raad van Indië) menerbitkan maklumat: seluruh warga Tionghoa yang tidak memiliki surat izin tinggal (permis-briefje) atau dianggap berpotensi merusuh akan ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka) atau Kap Koloni (Afrika Selatan) untuk dipekerjakan di perkebunan Kompeni.


    Rumor liar merayap di lorong-lorong pemukiman Tionghoa: “Mereka yang dibuang ke tengah laut tidak pernah sampai ke Ceylon. Kompeni melempar mereka ke hiu-hiu Samudra Hindia.”


    Api dalam sekam pun menyala. Kapitan Cina saat itu, Ni Hoe Kong, terjebak di antara dua kepentingan yang mustahil dipertemukan—kesetiaan pada Kompeni dan keselamatan warganya.


    Desas-desus, ketakutan, dan akumulasi keputusasaan akhirnya meledak menjadi pemberontakan bersenjata di luar tembok kota di bawah pimpinan Kapitan Tionghoa pemberontak seperti Oei Kouw.


    Badai di Halaman Stadhuis


    Pada malam tanggal 7 Oktober 1740, kelompok buruh dan petani Tionghoa yang putus asa menyerang pos-pos penjagaan VOC di luar tembok kota. Pos-pos Kompeni di Pagar Jaya dan Tanah Abang diserbu. Prajurit VOC tewas, dan panik menjangkiti jantung pemerintahan kolonial.


    Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier memberlakukan jam malam. Semua warga Tionghoa di dalam tembok kota dilarang keluar rumah, bahkan untuk menyalakan lilin sekalipun. Senjata-senjata milik warga Tionghoa disita, termasuk pisau dapur.


    Puncaknya terjadi pada 9 Oktober 1740. Perintah tak tertulis namun mutlak berembus dari balai kota (Stadhuis, yang kini menjadi Museum Fatahillah): Pembersihan total.


    Prajurit VOC, dibantu oleh milisi Eropa dan elemen masyarakat lokal yang terprovokasi oleh spekulasi serta janji penjarahan, merangsek masuk ke permukiman Tionghoa di dalam tembok kota. Pintu-pintu rumah didobrak. Siapa pun yang beretnis Tionghoa—pria, wanita, orang tua, hingga bayi dalam buaian—diseret ke jalanan.


    Sejarawan Dr. Leonard Blussé dalam karyanya 'Strange Company' menggambarkan betapa hysteria massa telah merobohkan seluruh nalar kemanusiaan dan sistem hukum VOC sendiri. Pembantaian itu bukan lagi sekadar tindakan militer defensif, melainkan pembantaian sistematis.


    Di halaman depan Stadhuis, ratusan tahanan Tionghoa yang terkumpul dieksekusi secara beruntun. Darah membasahi batu-batu jalanan Batavia. Bahkan Rumah Sakit Tionghoa tidak luput dari amuk massa; pasien-pasien yang terbaring sakit dibunuh di atas ranjang mereka, lalu bangunan tersebut dibakar hingga rata dengan tanah.


    Air Merah di Kali Angke


    Mereka yang berhasil lolos dari kepungan tembok kota melarikan diri ke arah barat daya, menyeberangi rawa-rawa dan anak sungai. Namun, pasukan kavaleri VOC dan kelompok bersenjata mengejar mereka hingga ke pinggiran sungai. Di sinilah peristiwa paling memilukan itu terpatri dalam sejarah lokal.


    Di tepi sebuah sungai yang saat itu belum bernama, ribuan pengungsi terkepung. Tak ada jalur melarikan diri: di depan mereka membentang air sungai yang dalam, di belakang mereka berdiri senapan dan kepala pedang yang siap menerjang.


    Eksekusi massal kembali terjadi tanpa ampun. Tubuh-tubuh bergelimpangan dan dilemparkan begitu saja ke dalam aliran air. Saking banyaknya mayat yang mengapung dan membendung aliran sungai, air berubah warna menjadi merah pekat selama berhari-hari. Bau busuk bangkai manusia memadati udara hingga jarak bermil-mil.


    Etimologi rakyat menyebutkan bahwa kata "Angke" berasal dari dialek Hokkian: Ang (紅) yang berarti merah, dan Ke (溪) yang berarti sungai atau kanal.


    Sungai Merah. Sebuah nama yang lahir dari pembaptisan darah. Meski sebagian sejarawan bahasa berpendapat bahwa nama "Angke" mungkin sudah ada dalam dokumen Sunda/Jawa kuno sebelum 1740 (merujuk pada nama Anke).


    Tidak dapat dimungkiri bahwa dalam memori kolektif warga Jakarta, nama sungai tersebut akan selamanya terikat erat dengan tragedi berdarah Oktober 1740.


    Persaingan Politik dan Kejatuhan Sang Gubernur


    Tragedi Angke 1740 tidak hanya meninggalkan trauma kemanusiaan, tetapi juga memicu gempa politik di internal VOC dan Pulau Jawa secara keseluruhan.


    Di dalam tubuh Dewan Hindia, terjadi perpecahan tajam antara Adriaan Valckenier dan wakilnya, Gustaaf Willem van Imhoff. Van Imhoff menentang keras cara-cara barbar Valckenier yang dinilainya tidak hanya melanggar moralitas, tetapi juga menghancurkan struktur ekonomi Batavia secara permanen.


    Pertengkaran politik ini berujung pada penangkapan Van Imhoff oleh Valckenier dan pengirimannya kembali ke Belanda.


    Namun, ketika berita tentang Bataviasche Furie (Kemurkaan Batavia) sampai di Amsterdam, para direktur VOC (Heeren XVII) merasa horor.


    Bukan hanya karena reputasi moral Republik Belanda tercoreng di mata Eropa, tetapi juga karena Batavia terancam bangkrut total akibat hilangnya tenaga kerja dan pedagang Tionghoa.


    Van Imhoff dibebaskan dan justru diangkat menjadi Gubernur Jenderal yang baru. Valckenier dipanggil pulang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


    Saat mampir di Kap Koloni, Valckenier ditangkap, dibawa kembali ke Batavia sebagai tahanan, dan akhirnya meninggal di dalam penjara Benteng Batavia—ironisnya, di tempat yang sama saat ia pernah memerintah bagai raja kecil.


    Refleksi Sejarah: Refleksi Hukum dan Kemanusiaan


    Diperkirakan 10.000 hingga 10.000 lebih warga Tionghoa tewas dalam kurun waktu kurang dari dua minggu selama Tragedi Angke.


    Sisa-sisa warga yang selamat melarikan diri ke arah timur Jawa, bergabung dengan Kesultanan Mataram, dan memicu Perang Sepanjang (1740–1743)—sebuah pilar perlawanan gabungan Tionghoa-Jawa yang hampir meruntuhkan kekuasaan VOC di tanah Jawa.


    Tragedi Angke adalah pelajaran kelam tentang bagaimana kombinasi antara krisis ekonomi struktur, prasangka rasial yang dipelihara, dan kegagalan kepemimpinan politik, dapat mengubah sebuah kota kosmopolitan menjadi arena jagal kemanusiaan.


    Fakta sejarah mencatat bahwa VOC membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan Batavia. Van Imhoff kemudian terpaksa membangun kawasan Pecinan baru di luar tembok kota—wilayah yang kini dikenal sebagai Glodok agar warga Tionghoa dapat diawasi sekaligus dilindungi dari paranoia serupa.


    Penutup: Jejak yang Terhalang Waktu


    Hari ini, jika Anda berdiri di jembatan di atas Kali Angke, Anda tidak akan lagi melihat air berwarna merah atau bau amis darah. Yang ada hanyalah alir sungai keruh khas perkotaan, deru mesin sepeda motor, dan deretan toko kelontong serta pemukiman padat yang berpacu dengan waktu.


    Namun, sejarah tidak pernah benar-benar hanyut oleh air sungai. Ia mengendap di dasar sedimentasi memori kita.


    Tragedi Angke 1740 tetap berdiri sebagai monumen pengingat yang bisu: bahwa ketika ketakutan mengalahkan nalar, dan ketika diskriminasi dijadikan alat kekuasaan, kemanusiaan selalu menjadi korban pertama yang hanyut ditelan zaman.


    ​Tragedi kejam yang paling tidak masuk akal ini juga adalah salah satu babak paling legendaris sekaligus memilukan dalam sejarah Kota Jakarta (dulu Batavia). Dari sungai yang pernah memerah, kini daerah Angke dan sekitarnya berkembang menjadi pusat interaksi budaya yang dinamis.


    Mengetahui sejarah di balik nama-nama tempat di sekitar kita membuat kita lebih menghargai keberagaman dan perdamaian yang kita nikmati hari ini. Jadi, kalau nanti kamu main atau jalan-jalan ke daerah Jakarta Utara dan Barat, kamu nggak cuma sekadar lewat—tapi juga tahu cerita besar di balik tanah yang kamu pijak!


    (bs/*)

    Komentar

    Tampilkan

    idul adha ujat

    Terkini