![]() |
| Ilustrasi. Dok: ist |
LN | - Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mencapai titik didih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak serangan udara terkoordinasi yang diluncurkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026, dunia kini tertuju pada satu pertanyaan besar.
Dalam perang terbuka ini, siapakah yang memiliki napas lebih panjang untuk bertahan, dan siapa yang akan menanggung kerugian paling besar?
Pertempuran ini bukan sekadar adu moncong senjata, melainkan benturan dua doktrin militer yang sangat berbeda. Di satu sisi, terdapat keunggulan teknologi mutakhir Barat, sementara di sisi lain, terdapat kekuatan massa dan strategi asimetris yang berakar pada ketahanan domestik.
Dominasi Udara dan Anggaran: Keunggulan Mutlak AS-Israel
Dalam kalkulasi militer konvensional, blok AS-Israel memegang keunggulan teknologi yang sulit ditandingi. Dikutip dari data Global Firepower (GFP) 2026, Israel menempati peringkat ke-15 kekuatan militer dunia dengan dukungan anggaran pertahanan yang fantastis, yakni sekitar US$34,6 miliar. Angka ini hampir empat kali lipat dibandingkan anggaran pertahanan Iran yang hanya berada di kisaran US$9,23 miliar.
Israel memiliki keunggulan udara dengan 239 pesawat tempur canggih, termasuk armada F-35 Lightning II yang memiliki kemampuan siluman. Sebaliknya, meskipun memiliki total 551 pesawat, sebagian besar armada udara Iran merupakan peninggalan era Uni Soviet dan teknologi AS pra-1979 yang telah dimodifikasi.
Keunggulan udara ini memungkinkan Israel dan AS untuk melakukan serangan presisi ke fasilitas nuklir dan infrastruktur strategis Teheran dalam waktu singkat.
Perang Asimetris: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?
Meskipun kalah dalam kecanggihan udara, Iran memiliki keunggulan yang bisa membuat perang ini menjadi "rawa" yang melelahkan bagi AS dan Israel. Dikutip dari laporan CNN Indonesia, Iran memiliki jumlah personel aktif sebanyak 610.000 tentara, jauh melampaui personel aktif Israel yang berjumlah sekitar 169.500 orang.
Keunggulan utama Iran terletak pada kekuatan darat dan rudal balistik. Iran diperkirakan memiliki stok lebih dari 2.500 rudal balistik dan mengoperasikan 1.550 unit proyektor roket mobile (MLRS).
Strategi Iran tidak berfokus pada memenangkan pertempuran udara, melainkan pada "kejutan" dari bawah tanah dan serangan rudal massal yang dapat melumpuhkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta kota-kota di Israel secara simultan.
Selat Hormuz: Senjata Ekonomi yang Mematikan
Iran memegang kartu as yang tidak dimiliki lawannya, kendali geografis atas Selat Hormuz. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini. Dikutip dari analisis Kompaspedia, penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai langkah defensif dapat memicu lonjakan harga minyak mentah hingga melampaui US$100-120 per barel.
"Gangguan distribusi energi dari Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan mendorong inflasi di berbagai negara," tulis laporan tersebut.
Jika perang berlangsung lama, tekanan ekonomi ini akan menjadi musuh utama bagi pemerintah AS dan Israel, yang harus berhadapan dengan ketidakpuasan publik domestik akibat kenaikan harga energi dan biaya hidup.
Siapa yang Bertahan dan Siapa yang Kalah Perang?
Menentukan pemenang dalam konflik ini tidak sesederhana melihat siapa yang memiliki bom lebih besar.
AS dan Israel kemungkinan besar akan menang dalam fase awal melalui penghancuran infrastruktur militer Iran secara masif. Namun, mereka berisiko "kalah" secara politik dan ekonomi jika terjebak dalam perang atrisi (kelelahan) jangka panjang yang menguras anggaran dan merusak stabilitas global.
Iran mungkin mengalami kerusakan infrastruktur yang parah, namun dengan luas wilayah yang besar dan jumlah pasukan yang masif, mereka memiliki ketahanan untuk tetap berdiri.
Iran "menang" jika mereka berhasil bertahan (survive) dan menyebabkan gangguan ekonomi yang cukup besar hingga memaksa Barat mundur dari meja perundingan.
Dikutip dari laporan Tempo.co, para analis memperkirakan bahwa serangan balasan Iran yang melibatkan proksi-proksinya di kawasan akan membuat eskalasi ini sulit dikendalikan.
Pada akhirnya, "kekalahan" sesungguhnya mungkin jatuh pada stabilitas ekonomi global yang kini berada di ujung tanduk.
(tim/**)





